movie foto

audio kliping

kombinasi

Inovasi Jaringan Perpustakaan

October 11, 2010

Oleh: Ismail Fahmi

Abstrak

Makalah ini menjelaskan sebuah model baru jaringan perpustakaan digital di Indonesia, yang juga merupakan jaringan perpustakaan digital pertama di Indonesia, sejak tahun 2000. Pada saat dirancang pada tahun tersebut, di dunia juga sedang berkembang model jaringan perpustakaan digital yang bernama Open Archive Initiative (OAI).

Namun jaringan OAI ini hanya memungkinkan perpustakaan digital yang terhubung ke internet dengan kecepatan tinggi secara dedicated (24 jam sehari, 7 hari seminggu) yang dapat bergabung. Sebagian besar perpustakaan di Indonesia yang ingin mengembangkan perpustakaan digital tentu tidak bisa bergabung karena tidak memiliki akses sebaik itu.

Model jaringan yang dipaparkan dalam makalah ini memungkinkan mereka yang hanya memiliki sambungan dial-up atau dibalik proxy warnet, bisa turut serta dalam jaringan penyebaran pengetahuan bangsa. Protokol OAI yang berbasis PMH (protocol for metadata harvesting) diterapkan dalam jaringan ini, dengan ditambah fitur PMP (protocol for metadata posting) yang berperan menyambungkan server-server tersebut.

Semua konsep dan gagasan dituangkan dalam software Ganesha Digital Library (GDL 3.2) yang dikembangkan dan didistribusikan sebagai software open source. Software ini gratis didownload dan diinstall oleh siapapun yang ingin bergabung. Hasilnya, sejak diluncurkan pada bulan Oktober 2001 hingga sekarang sudah terdapat lebih dari 40 perpustakaan digital di Indonesia yang bergabung dalam jaringan IndonesiaDLN (Indonesian Digital Library Network).

Berbagai bentuk pengetahuan seperti laporan penelitian, tesis, disertasi, proceeding, jurnal, literatur kelabu, multimedia, dan sebagainya sudah mulai banyak terkumpul dalam jaringan ini. Anggota jaringan ini bukan hanya dari perguruan tinggi, tetapi juga dari lembaga pemerintah, LSM, industri, dan menyusul dari UKM, dan sekolah-sekolah.

Untuk mengantisipasi pengembangan jaringan ini di masa mendatang, dan meningkatkan dukungan teknis yang lebih terdistribusi, kini dikembangkan model NeONs (Network of Networks) dalam GDL versi 4.0. Perpustakaan digital dalam jaringan IndonesiaDLN akan dikelompokkan berdasarkan komunitas masing-masing, seperti komunitas LSM lingkungan hidup, KB/TK, UKM, forum perguruan tinggi wilayah tertentu, dan sebagainya. Akhirnya akan terbangun banyak jaringan berdasarkan komunitas yang kemudian membentuk sebuah jaringan besar, IndonesiaDLN. Detail dan contoh implementasi model ini dijelaskan dalam makalah ini.

Kata kunci: Jaringan pengetahuan, kandungan lokal, IndonesiaDLN, Open Archive Initiative, Protocol for Metadata Posting (OAI-PMP), digital library, knowledge management.

1. Pendahuluan

Bagian ini menjelaskan dasar pemikiran, motivasi, dan permasalahan yang dihadapi oleh penulis ketika pertama kali menyusun model jaringan perpustakaan digital pada tahun 2000. Untuk memudahkan memahaminya, akan dimulai dengan ilustrasi informal yang kemudian diikuti dengan definisi formal.

1.1. Ilustrasi Informal tentang Permasalahan dan Tantangan

Aisyah adalah seorang pemilik dan pengasuh Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) di sebuah kota di Kalimantan. Banyak anak usia 3 hingga 6 tahun dari para karyawan perusahan minyak multinasional yang dititipkan dalam KB/TK-nya. Biaya pendidikan tidak ada masalah. Namun sumber daya guru yang menguasai pendidikan anak tidak cukup banyak. Buku-buku dan alat pendukung mudah dibeli. Namun bagaimana menerapkan bacaan berbahas Inggris tersebut dalam aktifitas di lapangan adalah masalah lain. Akhirnya Aisyah meminta sebuah KB/TK di Bandung yang tidak lebih ‘kaya’ secara materi dibanding KB/TK-nya tetapi kaya pengalaman dan ilmu untuk mengirimkan 2 orang tim guru selama satu bulan, guna menularkan pengalaman, tips, teknik, dan contoh-contoh menstimulasi anak di usia tersebut. Akhirnya terjadilah transfer pengetahuan dan pengalaman di antara mereka. Tentunya dengan biaya yang cukup besar, serta waktu dan tenaga yang harus disisihkan. Bagaimana kelanjutan asistensi ini? Ternyata KB/TK dari Bandung tersebut tidak bisa terus-menerus mengirim gurunya, karena harus menjalankan tugas yang sama ditempatnya.

Sementara itu di kota Yogyakarta, seorang aktifis LSM yang bergerak di bidang agribisnis sedang mencari cara meningkatkan kualitas produksi gula tebu rakyat. Karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang itu, dia harus mendatangi setiap lembaga penelitian dan perguruan tinggi teknik yang kemungkinan memiliki hasil riset tentang itu. Banyak waktu terbuang percuma di jalan naik bis dan kereta dari satu kota ke kota yang lain. Sulit sekali mendapatkan informasi penelitian dari lembaga yang dibangun untuk membantu rakyat tersebut.

Ilustrasi di atas menggambarkan adanya kesenjangan informasi dan pengetahuan di dalam masyarakat kita [Fahmi02a]. Hal itu terjadi di mana-mana, mulai dari KB/TK, sekolah, perguruan tinggi, UKM, LSM, pemerintahan, industri, dan masyarakat umum. Sebagian kelompok masyarakat memiliki kemampuan dan informasi, tetapi saluran distribusi ke masyarakat luas tidak berjalan dengan baik, atau bahkan tidak ada.

Kalau memang ada, biasanya informasi tersebut tidak terorganisasi dengan baik, sehingga tidak siap disajikan kepada masyarakat. Tidak jarang, rasa memiliki yang sangat tinggi terhadap hasil karya dan ilmunya membuat mereka enggan membuka dan menyebarkan seluas-luasnya.

1.2. Motivasi

Ada tiga faktor paling penting yang menjadi motivasi pengembangan teknologi dan jaringan ini. Ketiga faktor tersebut merupakan hasil temuan di lapangan seperti perbandingan antara informasi online dan yang tidak, kondisi pengguna internet di Indonesia, serta teknologi yang terbukti sukses dalam mengumpulkan dan menyebarkan pengetahuan secara terdistribusi.

1.2.1. Informasi yang Tersaji di Internet Lebih Banyak Dimanfaatkan Masyarakat

Steve Lawrence, dari NEC Research Institute, memperlihatkan suatu korelasi yang sangat erat antara frekuensi kutipan terhadap suatu artikel (number of citations) dengan persentase kemungkinan artikel tersebut tersedia online [Lawrence01]. Gambar 1 memperlihatkan kemungkinan sebuah artikel tersedia secara bebas di internet sebagai fungsi dari jumlah kutipan terhadap artikel tersebut. Hasilnya ternyata sangat menarik.

Terdapat korelasi yang sangat jelas antara jumlah kutipan terhadap sebuah artikel dengan kemungkinan artikel tersebut tersedia bebas di Internet. Jika kita perhatikan artikel dalam setiap tahun, dan rata-rata sepanjang tahun 1990 sampai dengan 2000, kita temukan bahwa artikel online dikutip 4,5 kali lebih sering dibandingkan dengan artikel offline.

1.2.2. Jumlah Pengguna Internet di Indonesia

Jumlah pengguna internet di Indonesia dari tahun ke tahun selalu meningkat, meskipun persentasenya terhadap jumlah penduduk masih sangat kecil. Tabel berikut menjelaskan statistic pelanggan dan pengguna Internet Indonesia [APJII03].

1.2.3. Jaringan Perpustakaan Digital Merupakan Model Pengorganisasian dan Penyebaran Pengetahuan yang Paling Berhasil

Profesor Edward A. Fox dari Virginia Politechnic Institute and State University pada tahun 1999 telah mengembangkan sebuah jaringan perpustakaan digital khusus untuk tesis dan disertasi beranggotakan 70 anggota di tingkat internasional. Jumlah ini selalu bertambah rata-rata 25 anggota baru setiap tahun hingga sekarang [Fox99].

Dengan jaringan ini, pengetahuan mahasiswa dalam bentuk tesis dan disertasi berhasil dikumpulkan, diorganisasikan, dan disabarluaskan secara elektronik. Banyak mahasiswa yang mendapat manfaat dari kumpulan pengetahuan ini bagi penelitian mereka. Dan semua ini dilakukan melalui sebuah jaringan yang terdistribusi secara internasional.

Upaya ini akhirnya melahirkan terobosan lain seperti pengembangan standard protocol komunikasi antar server dalam jaringan perpustakaan digital. Misalnya Open Archive Initiatives (OAI) yang menggunakan model harvesting metadata [OAI02]. OAI membagi server sebagai server Penyedia Data dan server Penyedia Layanan. Penyedia Layanan tidak harus memiliki koleksi elektronik, tetapi dapat memanfaatkan koleksi dari server-server Penyedia Data lain untuk disajikan ke pengguna atau komunitasnya .

1.3. Perlu Teknologi Jaringan Perpustakaan Digital yang Sesuai dengan Kondisi Indonesia

Untuk memulai jaringan ini, kita tidak perlu berangkat dari nol. Banyak sekali teknologi open source yang dapat dimanfaatkan. Demikian juga dengan teknologi yang berhubungan langsung dengan jaringan perpustakaan digital seperti OAI. Agar berhasil, kita tidak bisa begitu saja menerapkan teknologi tersebut, karena kondisi infrastruktur mereka yang mendasari model OAI jauh lebih maju dibandingkan Indonesia.

Diperlukan kreativitas dan inovasi baru untuk ditambahkan ke dalam teknologi tersebut sehingga sesuai dengan kondisi Indonesia. Inovasi ini harus memungkinkan sebagian besar institusi di Indonesia yang ingin bergabung tetapi tidak memiliki sambungan ke Internet secara dedicated, tetap dapat berkontribusi dalam jaringan.

Salah satu inovasi penting dalam model ini adalah pengembangan protokol PMP (protocol for metadata posting) yang belum didukung oleh OAI. Selain itu, beragamnya komunitas juga merupakan faktor penting yang harus dimanfaatkan untuk mendorong penyebaran inisiatif dan implementasi jaringan ini.

2. Jaringan Perpustakaan Digital: Definisi dan Metodologi

Kita mulai dengan mendefinisikan secara formal permasalahan dalam pengembangan jaringan perpustakaan digital serta istilah-istilah yang digunakan sepanjang makalah ini.

2.1. Definisi Visi dan Permasalahan

Visi utama jaringan perpustakaan digital ini adalah menjadi kendaraan bagi pengelolaan, pengorganisasian, penyajian, dan penyebarluasan pengetahuan bangsa Indonesia melalui jalan raya internet. Perpustakaan digital dalam makalah ini maksudnya adalah sebuah sistem yang terdiri dari perangkat hardware dan software, koleksi elektronik, staf pengelola, pengguna, organisasi, mekanisme kerja, serta layanan dengan memanfaatkan berbagai jenis teknologi informasi yang bertujuan memanfaatkan dan menyebarkan pengetahuan bagi komunitas yang lebih luas.

Ada dua permasalahan penting yang dihadapi, yaitu permasalahan teknis dan non-teknis. Secara teknis, teknologi yang digunakan harus mampu mengumpulkan dan menyebarkan informasi dari berbagai sumber ke seluruh anggota jaringan, baik yang terhubung secara dedicated atau menggunakan dial-up (temporer). Artinya, harus bisa mengantisipasi kecepatan transaksi data yang sangat lambat dan availability server rendah.

Secara non-teknis, model yang dikembangkan harus mengakomodasi kebutuhan interaksi dan pengembangan koleksi dari masing-masing komunitas yang berbeda berdasarkan topik informasi atau lokasi kegiatan. Misal komunitas kesehatan, biasanya lebih banyak berinteraksi dengan sesame mereka yang bergelut dalam bidang kesehatan. Komunitas pendidikan anak, akan lebih mudah berkembang jika dikelompokkan tersendiri. Demikian juga dengan yang berdasarkan lokasi seperti FPPT (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi) yang dibagi-bagi berdasarkan wilayah seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan seterusnya.

2.2. Metodologi Penelitian

Untuk mencapai pemanfaatan serta distribusi software yang luas, tidak tergantung pada platform atau jenis sistem operasi, penulis menggunakan komponen-komponen open source dan membuat aplikasi berbasis web. Misalnya, menggunakan server web Apache dengan bahasa pemrograman PHP, server database MySQL, serta search engine SWISH-E (simple web indexing for human – extended) [SWISHE02].

Protokol transaksi data antar server perpustakaan digital menggunakan OAI yang telah banyak dimodifikasi dan ditambah kemampuannya. Format transaksi data menggunakan XML dengan standard elemen data dari Dublin Core. Dengan demikian, suatu saat akan mudah jika harus berkolaborasi secara internasional. Standardisasi adalah faktor yang sangat penting dalam membangun jaringan seperti ini.

Sedangkan untuk menjamin keberlangsungan jaringan, dibangun forum bersama yang beranggotakan para partner dari berbagai institusi yang bergabung ke dalam jaringan. Melalui forum ini dapat dilakukan evaluasi dan perbaikan dari waktu ke waktu, serta koordinasi dalam operasional dan penerapan sistem baru. Evaluasi dilakukan dari statistik jumlah koleksi elektronik serta akses terhadap koleksi tersebut.

2.3. Istilah-istilah Penting

Berikut ini adalah beberapa istilah penting yang digunakan dalam makalah ini:

Metadata; adalah informasi yang menjelaskan informasi lain yang lebih lengkap. Disebut juga data tentang data. Contoh metadata adalah informasi bibliografi (judul, pengarang, tahun, penerbit, dll) yang ada disetiap halaman awal buku, yang menjelaskan tentang buku itu.

Dublin Core; adalah standard penulisan metadata yang paling banyak digunakan di dunia. Terdiri dari 15 elemen utama, yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan organisasi. Penulis menggunakan standard ini tetapi dimodifikasi sesuai komunitas.

XML; atau Extensible Markup Languange adalah standard bahasa penulisan informasi yang strukturnya elemennya dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Transaksi metadata antar server perpustakaan digital ini ditulis menggunakan format XML.

OAI; atau Open Archive Initiative adalah sebuah upaya internasional di kalangan akademik untuk membangun standard protokol komunikasi antar server perpustakaan digital, serta membangun jaringan perpustakaan digital internasional.

Web: OAI-PMH; atau OAI – Protocol for Metadata Harvesting adalah protokol yang dihasilkan oleh OAI, yang transaksi datanya berdasarkan mekanisme harvesting atau pengambilan metadata dari serverserver lain oleh sebuah server perpustakaan digital untuk disimpan ke dalam database lokal.

Server yang menyediakan koleksi elektronik dan metadata untuk diambil disebut Penyedia Data, sedangkan server yang mengambil metadata dan menyajikannya lagi disebut Penyedia Layanan.

OAI-PMP; atau OAI – Protocol for Metadata Posting adalah protokol yang dikembangkan oleh penulis sebagai tambahan bagi OAI, sehingga server Penyedia Data dalam jaringan tidak harus terhubung secara dedicated ke internet.

IndonesiaDLN; adalah nama jaringan perpustakaan digital yang dibangun penulis bersama komunitas perpustakaan di Indonesia, dan merupakan jaringan perpustakaan digital pertama di Indonesia.

NeONs; atau Network of Networks adalah sebuah konsep atau model jaringan IndonesiaDLN masa depan, yang di dalamnya terdiri dari berbagai sub-network perpustakaan digital.

3. Model Jaringan NeONs

Bagian ini menjelaskan inovasi model “jaringan dari jaringan-jaringan” atau Network of Networks (NeONs). Pembahasan dimulai dari jenis-jenis sumber pengetahuan yang akan dikelola, hingga bagaimana berbagai komunitas dapat saling bertukar pengetahuan. Dijelaskan bagaimana sebuah jaringan bagi setiap komunitas dibentuk, hingga bagaimana menghubungkan jaringan-jaringan tersebut dalam sebuah jaringan nasional yang lebih besar, sebuah Network of Networks.

3.1. Sumber Daya Pengetahuan

Sumber daya yang akan diangkut oleh kendaraan perpustakaan digital ini adalah informasi dan pengetahuan, bukan data. Contoh data adalah “temperatur saat ini –12o C”. Data ini setelah dihubungkan dengan data lain tentang ruang, waktu, dan peristiwa yang memiliki konteks yang erat akan menjadi informasi yang bermanfaat.

Hasil pengolahan informasi dan data secara lebih luas dan mendalam menghasilkan pengetahuan, misalnya yang dituangkan dalam paper, artikel, jurnal, makalah, laporan penelitian, tesis, disertasi, review, gambar, diagram, ceramah, video training, dan sebagainya. Sumber daya pengetahuan seperti ini yang akan dikelola oleh perpustakaan digital. Setiap komunitas dalam bangsa ini sebenarnya menghasilkan pengetahuan tersebut, baik tertulis (explicit) maupun tidak (tacit).

Misal di lingkungan KB/TK, setiap guru pasti memiliki teknik dan pengalaman tersendiri ketika menghadapi anak-anak. Sebagian KB/TK yang kreatif membuat buletin komunikasi bagi para orang tua, yang berisi tulisan para guru, pengalaman di kelas, serta reportase kreativitas dan kemajuan anak-anak. Bahkan anak-anak pun sudah menghasilkan pengetahuan sejak dini, seperti dalam bentuk coretan lukisan cat air, karya cipta dari kotak-kotak bekas, dan sebagainya. Ini adalah sumber pengetahuan dan inspirasi yang bisa ditularkan kepada KB/TK yang lain.

Masalah utamanya adalah tidak ada mekanisme pengorganisasian dan pemanfaatan kembali pengetahuan tersebut. Masalah ini yang akan dipecahkan melalui perpustakaan digital. Sistem ini hanya akan mengelola pengetahuan yang sudah terdokumentasi, yang biasanya sudah ada dalam bentuk hard copy, atau soft copy (file doc, pdf, txt, gambar, audio, dan video). Agar bisa disebarkan melalui jaringan, pengetahuan dalam hard copy harus didigitalkan terlebih dahulu, misalnya melalui scanning.

3.2. Format Metadata

Prof. Dr. Alwi Shihab pada tahun 1997 memberi kuliah umum di Masjid Salman ITB tentang Tasamuh. Kuliah ini sangat menarik dan selalu direkam dalam kaset. Agar dapat didengarkan kembali oleh masyarakat luas melalui jaringan perpustakaan digital, rekaman tersebut didigitalkan ke dalam format real-media. Mengingat ukuran filenya cukup besar, 7 MByte lebih, tidak mungkin file tersebut disebarkan secara langsung ke puluhan server dalam jaringan. Oleh karena itu, dibuatlah metadata, yang menjelaskan isi dari rekaman digital tersebut.

Metadata ini berbentuk teks biasa yang ditulis dengan bahasa tertentu yaitu XML. Dimulai dengan tag <dc> diakhiri dengan tag </dc>, dan di dalamnya terdapat berbagai elemen dengan tag-tag yang berbeda. Elemen-elemen tersebut menjelaskan judul, penceramah, subyek ceramah, abstrak, tanggal, identitas metadata, daftar file serta lokasi downloadnya. Struktur elemen seperti ini mengikuti standard Dublin Core [DC03].

Metadata ini lah yang kemudian disebarkan ke seluruh server dalam jaringan. Server-server tersebut melalui protokol PMP – yang akan dijelaskan kemudian – dapat memilih metadata dalam kategori tertentu dan dari server tertentu untuk didownload. File asilnya sendiri masih disimpan dalam server Penyedia Data. Dengan demikian, berapapun besarnya jumlah koleksi, tidak akan membebani jaringan karena hanya sepenggal metadata dari setiap file sumber yang akan disebarluaskan.

3.3. Protokol dan Skenario Komunikasi

Metadata dan file yang sudah diorganisasikan (diupload dan disimpan menurut urutan kategori tertentu) di sebuah server perpustakaan digital – baik yang terhubung ke internet melalui sambungan dedicated atau dialup/proxy – dapat disebarkan ke jaringan dengan cara mem-posting metadata dan atau file tersebut ke server lain, misalnya ke server HUB.

Server HUB ini dibuat khusus untuk menyimpan dan menyajikan metadata dari seluruh server NODE di dalam sub-jaringannya. Dengan demikian, subjaringan lain yang ingin meng-harvest metadata dari sebuah sub-jaringan, cukup menghubungi server HUB yang terhubung ke internet secara dedicated ini.

Skenario komunikasi ini diperlihatkan oleh gambar 2. Server NODE-A menggambarkan sebuah server perpustaan digital yang hanya terhubung melalui sambungan dial-up atau di balik proxy. Server ini tidak bisa dihubungi oleh pengguna dari internet, karena tidak memiliki alamat IP publik dan hanya online pada saat-saat tertentu. Dia hanya bisa dihubungi oleh pengguna dalam intranet lokal. Server NODE-B mewakili sebuah server perpustakaan digital yang terhubung 24 jam sehari/7 hari seminggu dan memiliki alamat yang bisa dihubungi oleh siapapun di internet.

Kedua server tersebut menyediakan sumber daya pengetahuan (Penyedia Data) yang dikumpulkan dari organisasinya masing-maing. Agar sumber daya ini tersebar lebih luas, kedua server menggunakan protokol PMP untuk mem-posting atau mengirim metadata dan jika perlu file-file yang dimilikinya ke server HUB.

Meskipun mereka sedang tidak terhubung ke internet, server HUB masih bisa menyajikan sumber daya pengetahuan mereka. Mekanisme ini belum tersedia dalam OAI-PMH versi 2.0, dan baru akhir-akhir ini (akhir tahun 2002) OAI menambahkan mekanisme posting tersebut kedalam OAI-PMH-Extended.

Selain sebagai Penyedia Data, server tersebut juga dapat menjadi Penyedia Layanan, seperti halnya server NODE-C. Server tarakhir tidak memiliki sumber daya pengetahuan sendiri, tetapi memiliki pengguna dan fasilitas untuk menyebarkan pengetahuan. Dengan protokol OAI-PMH, mereka dapat meng-harvest atau mengambil metadata dari server lain yang dedicated. Setelah metadata tersebut tergandakan di database lokal, mereka dapat menyediakan layanan browsing, searching, dan redirect download ke server Penyedia Data.

Melalui server Penyedia Layanan ini, pengguna dapat menelusuri dan mencari informasi yang dimiliki oleh seluruh Penyedia Data di jaringan. Ketika sebuah file yang diwakili oleh metadata akan didownload, server Penyedia Layanan akan meneruskan akses (redirect) ke server asal yang menyimpan file tersebut. Skenario komunikasi seperti ini didukung oleh fitur layanan OAI-PMH dan Penyedia Layanan dan Penyedia Data – saling berkomunikasi. Aktifitas komunikasinya dibangun oleh protokol Request dan Response.

Protokol requestresponse dari OAI-PMH terdiri dari GetRecord, Identify, ListIdentifiers, ListMetadataFormats, ListRecords, dan ListSets. Sedangkan untuk membangun jaringan NeONs, penulis menambahkan protokol requestresponse yang disebut OAI-PMP, antara lain Connect, Disconnect, PutRecord, PutListRecords, PutFileFragment, dan MergeFileFragments.

Baca selengkapnya di sini

Tautan Sumber:

http://duniaperpustakaan.blogdetik.com/2009/11/15/inovasi-jaringan-perpustakaan/

One Response to “ Inovasi Jaringan Perpustakaan ”

  1. [...] selengkapnya: Inovasi Jaringan Perpustakaan | kombinasi [...]

Komentari

*

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word