movie foto

audio kliping

kombinasi

Sistem Peringatan Dini Gunung Merapi, Sinergi Teknologi Interkoneksi

April 30, 2009

Oleh Biduk Rokhmani

Sejak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) mengumumkan Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tengah dalam status siaga, warga mulai was-wasjika gunung teraktif di dunia itu benar-benar meletus.
Adanya peningkatan status Merapi dari waspada menjadi siaga pada 12 April 2006 menyebabkan warga harus mempersiapkan banyak hal dalam menghadapi bencana yang ditimbulkan Merapi jika meletus. Terlebih lagi peningkatan status dari siaga menjadi awas pada 13 Mei 2006 yang lalu menjadikan warga di sekitar lereng Merapi harus benar-benar waspada. Hal utama yang harus diwaspadai, selama ini erupsi Merapi selalu disertai dengan memuntahkan awan panas yang biasa diistilahkan oleh warga sekitar dengan ‘wedhus gembel’.

Meski pemantauan aktivitas Merapi terus dilakukan secara intensif di lima titik Pos Pengamatan Gunungapi Merapi (PPGM) PPGM Kaliurang, Babadan, Krinjing.Jrakah, dan Selo–namun dalam sejarah, kapan tepatnya Merapi meletus selalu saja tidak bisa diprediksi. Dan benar saja, tanpa diduga Merapi akhirnya terus menerus mengeluarkan lava pijar dan semburan awan panas.

Bahkan pada 14 Juni 2006, ketika status kondisi Merapi telah diturunkan lagi menjadi siaga, justru pada saat itulah Merapi memuntahkan awan panas terbesar dalam sejarah erupsi Merapi 2006 sepanjang 7 km yang akhirnya menewaskan dua orang yang terjebak di bungker Kaliadem, Cangkringan, Sleman, yakni Sudarwanto alias Kenteng (warga Sentolo, Kulon Progo yang juga relawan dari kelompok Artha Graha Peduli) dan Warjono (warga setempat).

Jaringan Informasi Lingkar Merapi
Sebagai media komunikasi dan informasi seputar aktivitas Merapi dan warga di kawasan rawan bencana, Jalin Merapi (Jaringan Informasi Lingkar Merapi) hadir sebagai jembatan bagi seluruh warga komunitas di lereng Merapi. Juga bagi komunitas lain yang secara geografis jauh dari Merapi. Awalnya, berkumpul tiga radio komunitas yang berada di lereng Merapi. Yakni Radio Lintas Merapi (Dusun Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten), Radio KFM (Desa Ketunggeng, Kecamatan Dukun, Magelang), dan Radio Merapi-Merbabu Community (MMC) yang terletak di Dukuh Kuncen, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali.

Mereka sepakat menjalin kerja sama guna membentuk sebuah jaringan sistem informasi dan komunikasi yang terintegrasi antarketiga radio komunitas tersebut. Meski di ketiga lereng Merapi itu telah beroperasi stasiun radio, namun adanya keterbatasan teknologi (juga adanya pembatasan regulasi oleh pemerintah), mengharuskan mereka untuk memikirkan kembali teknologi yang bisamenembus semua keterbatasan itu. Mulanya, disepakati penggunaan handy talkie (HT) guna menjalin komunikasi di seputar kawasan lereng Merapi. Ada lima titik antena HT yang dipasang di seputar lereng Merapi. Yakni di Deles, Balerante, Tegalmulyo (ketiganya di Klaten), Dukun (Magelang), dan Selo (Boyolali). Komunikasi melalui HT difungsikan sebagai sarana pemantauan kondisi dan aktivitas Gunung Merapi, juga warga masyarakat yang bermukim di seputarnya. Pertukaran informasi itu guna meningkatkan kewaspadaan warga agar selalu siaga menghadapi bencana erupsi Merapi.

Namun sekali lagi kelemahan teknologi masih membatasi terjalinnya sistem komunikasi yang terintegrasi. Pasalnya, kondisi geografis antara wilayah satu dengan yang lain ada yang tersekat oleh Merapi yang menyebabkan lemahnya jangkauan frekuensi HT yang tidak berhasil menembus sisi lain wilayah lereng Merapi itu.

Lantas, digagaslah bentuk sistem komunikasi dan informasi baru dengan menggabungkan antara interne’t dengan teknologi yang saat ini tengah dijalankan. Memanfaatkan sarana HT, Jalin Merapi bekerja sama dengan relawan yang notabene adalah warga lokal di lereng Merapi sebagai informan utama. Berbeda dengan media yang selama ini ada, Jalin Merapi yang beralamat di http://merapi.combine.or.id menyajikan segala macam informasi tentang Gunung Merapi dan warga di sekitarnya berdasarkan hasil pengamatan kontributor yang berada di lokasi. Sebagai media yang informasinya berasal dari lapangan, digali langsung dari dan oleh masyarakat setempat, maka laporan langsung yang disampaikan oleh kontributor lokal melalui HTitu akan di-upload ke situs Jalin Merapi dan diolah sebagai berita.

Di Jalin Merapi tidak mutlak diberlakukan adanya pernyataan resmi dari seorang pejabat atau aparat dari instansi pemerintahan. Informasi yang diperoleh cukup berupa pernyataan dari warga setempat yang menyampaikan laporan secara langsung. Untuk menjaga agar informasi selalu terbaru dan kontinu, setiap dua jam sekali harus dilakukan pemantauan terhadap data kondisi Merapi yang paling akhir. Selain itu juga terdapat kliping berita dari media lain guna melengkapi informasi yang disampaikan.

Informasi yang disampaikan di Jalin Merapi tidak saja terkait tentang aktivitas gunung teraktif di dunia itu, melainkan juga warga masyarakat di seputar lereng Merapi yang mau tidak mau harus mengungsi ke lokasi yang relatif lebih aman dari ancaman erupsi Merapi. Jika Anda membutuhkan peta jalur evakuasi bagi warga yang hendakdiungsikan, di situs ini tentu saja tersedia. Bahkan lokasi-lokasi pengungsian dan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka juga dihimpun oleh para informan, sehingga para aparat dan pengambil kebijakan terkait tidak salah kaprah dalam menangani warga yang terpaksa mengungsi, dari proses evakuasi hingga kebutuhan utama ketika di lokasi pengungsian.

Level of Activity Merapi Volcano
1. Aktif Normal (Normal active)
2. WaspadaMerapi(Attention)
3. Siaga Merapi (Standby)
4. Awas Merapi (Evacuation)

Komentari

*

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word