movie foto

audio kliping

kombinasi

Usaha Bawang Goreng yang Tak Lagi Renyah

April 28, 2009

Oleh Saiful Bakhtiar

Brebes, telur asin, dan bawang merah seolah telah menjadi kesatuan yang melekat. Brebes yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat dan memiliki curah hujan rata-rata 18,94 mm per bulan sangat potensial untuk pengembangan produk pertanian, salah satunya bawang merah.Setiap tahunnya, Brebes mampu memasok 30-40 persen untuk kebutuhan bawang merah nasional. Namun ironinya, untuk memenuhi kebutuhan bibit, 40 persen di antaranya, masih harus diimpor dari Filipina. Selain itu tidak hanya pada masuknya bibit impor bawang konsumsi pun makin merajalela dan menyebabkan pendapatan petani Brebes mengalami penyusutan. Dalam kondisi seperti itu diperlukan berbagai terobosan usaha pengolahan produk bawang merah untuk peningkatan kesejahteraan petani bawang merah.

Adalah sosok Bambang Widayadi (47), pria asal Piyungan, Bantul yang sejak 11 tahun terakhir  menekuni profesi perajin bawang goreng. Awalnya, ia melihat potensi bawang merah yang melimpah yang tidak lolos ‘sensor’ secara kualitas dan hanya mampu bertahan maksimal seminggu, Bambang pun memberanikan diri berbisnis produk bawang goreng. Bermodal keberanian untuk menjajaki potensi pasar, usaha itu terus ia rintis. Tepatnya tahun 1997, bermodal Rp 1 juta dan dengan teknologi yang awalnya masih sangat tradisional, bisnis yang berbasis home industry itu pun dimulai. Dalam perjalanannya, usaha itu dihadapkan pada persaingan dan permintaan pasar yang menuntut harga murah dengan kualitas yang baik, namun tentu saja dengan teknologi sederhana hal itu tidak mampu ia wujudkan. Hobi mengutak-atik peralatan mendorong bapak beranak tiga itu untuk mencari teknologi tepat guna yang cocok untuk pemenuhan alat goreng bagi bawang merah.

Mulai tahun 1998, langkah itu dirintis. Beberapa usaha untuk membuat atau menemukan alat goreng yang bagus dilakukan. Bukan hal yang mudah tentunya. Berburu di Tegal yang terkenal dengan industri teknologi tepat guna sampai ke Ceper, Kendal, bahkan sampai produk teknologi BBPT, Bandung pun dilakoni dan dicobanya. Tapi setelah beberapa alat dicoba, hasil yang dirasakannya kurang optimal. Karenanya, Bambang mencoba memodifikasi sendiri alat itu dengan melihat dan mengumpulkan kelebihan sekaligus menghilangkan sisi kekurangan alat-alat yang telah dibeli di Tegal, Kendal, dan Bandung.

Akhirnya, pada tahun 2001, dia mampu menyelesaikan teknologi modifikasi hasil rakitannya dengan hasil olahan yang dinilainya lebih bagus. Bahkan, pada di tahun 2003, alat penggorengan hasil modifikasinya dikirimkan pada kegiatan Krenova (Lomba Kreativitas Masyarakat) tingkat provinsi di Semarang, dan alat itu mendapat penghargaan juara ketiga.

Kelompok perajin
Di Brebes, Bambang tidaklah sendirian menjalani usaha bawang goreng itu. Tahun 1998, Bambang bersama rekan-rekannya menggagas pembentukan kelompok perajin bawang merah. Wadah itu menjadi jembatan pemersatu bagi perajin untuk saling bertukar informasi teknologi dan pemasaran. Awalnya, hanya terdaftar sekitar 18 anggota yang tergabung dalam kelompok perajin bawang goreng  yang tersebar di wilayah Brebes. Yakni Brebes Kota, Pesantunan, Limbangan, Kaligangsa, Bumiayu, Tegalglagah, Ketanggungan, bahkan sampai Bumiayu. Mereka adalah para perajin yang menjalankan usahanya secara home industry dan setiap hari hanya mampu mengggoreng 10–20 kg bawang mentah, serta masih menggoreng secara tradisional.

Di tahun itu pula, mereka mendapatkan bantuan dari Bank Dunia dengan adanya program hibah. Hibah dari Bank Dunia berupa mesin produksi dan mereka juga mendapatkan dana dalam bentuk pinjaman. Uniknya, mesin hibah yang diberikan mengalami beberapa kali perbaikan karena dianggap belum cocok untuk menghasilkan produk bawang goreng yang bagus. Kemudian, melalui sentuhan tangan Bambanglah mesin itu dimodifikasi yang lantas bisa digunakan dan dirasakan cocok oleh para perajin.

Sekarang, setelah terbentuk kelompok perajin dan menerima hibah mesin, kemampuan produksi tergantung kapasitas kemampuan pasar yang mereka kuasai. Alat yang sekarang dipakai mampu memroduksi dalam satu jam sebanyak 60 kilogram bawang mentah. Jika dibandingkan, jumlah produksi yang dihasilkan perajin yang tergabung dalam kelompok dan di luar kelompok, rata-rata produksi perajin anggota kelompok mencapai satu kuintal matang per hari jika kondisi pasar memungkinkan. Sementara, perajin di luar kelompok ada sekitar 20 perajin yang terbilang masih dengan sistem produksi tradisional hanya mampu memroduksi lima kilogram bawang goreng matang tiap hari.

Biaya produksi ikut meningkat
Lain dulu, lain sekarang. Kini, masa keemasan bawang goreng mulai pudar. Tidak sedikit anggota kelompok yang mulai beralih profesi atau gulung tikar. Sampai saat ini, karena berbagai kendala, terlebih peluang pasar, anggota yang masih aktif produksi dalam skala besar tercatat hanya tinggal 11 anggota dari 18 anggota kelompok yang terdaftar. Kelesuan pasar, menurut Bambang, dirasakan setelah naiknya harga BBM. Lebih lanjut, Bambang mengatakan, dalam satu minggu terakhir, harga minyak goreng dan terigu naik, sehingga otomatis hasil produksi turun karena daya beli konsumen juga menurun. Untuk menaikkan harga jual sangatlah susah sehingga terpaksa mereka harus mengurangi keluaran produksi.

Dalam kondisi sekarang, bawang goreng matang dijual seharga Rp 22.000 per kilogram untuk kelas satu, sedangkan jenis kelas sedang Rp 19.000 per kilogram. Bambang menuturkan, sekarang ini, produksi yang dilakukan lebih karena pemenuhan kolega bisnis yang sudah menjadi mitra usahanya sejak lama. “Kadang rugi, kadang pas-pasan saja, Mas. Terlebih karena usaha ini kan home industry, jadi terkadang tenaga tidak dihitung, sehingga meskipun untung sedikit produksinya tetap bisa jalan,” paparnya.

Teknologi pengirisan yang sudah menggunakan mesin perajang turut memberikan keuntungan. Saat ini, ada dua alternatif cara menggoreng, menggoreng dengan wajan dan sistem oven. Diukur dari biaya produksi, penggorengan wajan jauh lebih murah dan efektif waktu dibanding sistem penggorengan oven, sehingga masih banyak perajin bawang yang masih menggoreng secara manual.

Seiring meningkatnya biaya produksi, berbagai cara untuk menggaet pembeli terus dilakukan. Bambang pun mulai melakukan penjajakan pasar hingga ke berbagai wilayah, termasuk Jakarta. Selain Jakarta, mereka juga mendistribusikannya ke wilayah Batang, Pekalongan, Purwokerto, Tegal, dan Slawi. Pembelinya adalah para agen yng sudah lama menjadi mitra bisnisnya. Mereka membeli dan memasarkan ulang, sekaligus mengemas ulang bawang gorengnya.

Penawaran dari industri besar selama ini banyak berdatangan, namun dirasakan masih belum sesuai dan cocok dengan apa yang diinginkan perajin. Kemungkinan menembus atau menjadi supplier bagi industri mie instan nampaknya juga masih sulit, karena bawang goreng Brebes ketahanannya hanya sampai sembilan bulan. Sementara, perusahaan mie instan, seperti Indofood, memerlukan produksi bawang goreng yang ketahanannya jauh lebih lama. Produk yang biasa mereka minta biasanya menggunakan bawang goreng jenis Sumenep. Jenis itu, selain ketahanannya jauh lebih lama, juga lebih murah.

Bagi Bambang, kendala sekarang yang dihadapi adalah pasar atau daya beli yang mengalami penurunan. Hal itu tidak diimbangi oleh kenaikan biaya produksi dan bahan baku. Sampai saat ini, bersama dengan anggota kelompok yang lain, ia terus melakukan terobosan pasar. Namun, dukungan dari berbagai pihak masih sangat diperlukan terlebih ketersediaan informasi pasar untuk pengembangan distribusi produk bawang goreng Brebes. Dia juga berharap, adanya penemuan teknologi lanjutan berupa teknologi pengupasan kulit ari bawang merah yang sampai sekarang masih dilakukan secara tradisional.

Unduh

4 Responses to “ Usaha Bawang Goreng yang Tak Lagi Renyah ”

  1. Rusmono on November 6, 2010 at 11:23 pm

    Sy Rusmono saat ini sy tertarik utk usaha ini dengan konsep pemasaran baru yg kami usung insyallah ini dapat berhasil,dimana saya dapat menghubungi Bapak dan peralatan yg sudah bapak canangkan pada mitra2 kami hrs beli dimana dan berapa harganya Terima kasih Rusmono Brebes

  2. Mesin Home Industri on December 17, 2010 at 1:58 am

    Workshop & Office : Jl. Parasamya 48 Beran Tridadi Sleman Yogyakarta Telp/Fax: +62 0274 – 868442 CP; Budi :0274-7004804,08562944387 Jarot: 081392186799 Margi: 08159086478
    Kunjungi http://www.otoda.blogspot.com/ Produksi alat/mesin: Pengolah sabut kelapa, Biomassa Incenerator, Pengolah minyak atsiri/nilam, Pengolah Rotan, Pompa Hydram, Biogas, Perajang ceriping, Pengolah sampah, Pencetak Pelet, Presto, Perajang tembakau, Pemipil jagung, Emping jagung, Pemecah Kemiri, Pembuat selai dan dodol, segala macam oven, Segala macam Pengaduk, Vacum Vraying dan sebagainya. Pokoknya komplit pli plit… dan terjangkau.

  3. yuli on December 29, 2010 at 2:22 am

    saya juga jual bawang goreng di daerah pabedilan Cirebon jawa barat. saya ingin menjadi anggota kelompok bapak. gmn caranya? soalnya kami baru menekuni usaha bawang goreng ini. termakasih..

  4. villa kharista on September 22, 2011 at 1:39 am

    menark skali pak bisnis anda..
    trima ksih atas nformasinya semoga brmanfaat

Komentari

*

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word